shela m

Archive for Maret 2011

Minggu, 27-07-2008 16:48:17 oleh: Nurliati Sari Handini
Kanal: Sastra

Hari ini “Hari Ibu”. Sembari terbaring di atas kasur empuk dengan mata yang baru sedikit terbuka, aku meraih ponselku dan mengirim SMS singkat namun penuh cinta untuk ibuku. Setelah itu aku bergegas mandi dan menyiapkan sarapan untuk diri sendiri. Kubuka lemari es sambil berharap semoga masih ada makanan yang tersimpan di dalamnya.

Ternyata aku cukup beruntung. Masih ada beberapa butir telur. Menyadari kemampuan memasakku yang amat terbatas, kuputuskan untuk merebus satu butir telur. Selintas terpikir olehku,”Wah, coba Ibu ada di sini. Pasti Ibu udah nyiapin sarapan buat aku.” Tapi, sedetik kemudian aku berubah pikiran. Ibuku kan juga tidak bisa memasak. Sama saja dong.

Aku jadi tertawa geli sendiri. Aku teringat akan kehebohan yang terjadi setiap kali Ibu bersikeras memasak untuk anak tersayangnya ini. Walaupun masakan Ibu sering gagal, tapi tetap saja terasa lezat di lidahku. Apalagi kalau makannya disuapi Ibu. Hmm..Lezat. Bumbu kasih sayang Ibu mengalahkan kacaunya cita rasa garam, gula, merica, atau entah apa lagi yang dimasukkan Ibu ke dalam masakannya.

Untuk kesempatan pagi di “Hari Ibu” yang tanpa kehadiran ibuku ini, kurasa satu butir telur plus secangkir kopi hangat setidaknya akan mampu membuatku bertahan hingga tengah hari. Lagipula tak ada yang lebih nikmat dibanding secangkir kopi hangat di pagi hari. Kopi memang sahabat setiaku. Pendamping setia saat aku harus jungkir balik semalaman menghafal bahan ujian, saat aku patah hati, dikejar tenggat waktu tugas kuliah, bahkan juga di saat aku sedang setengah mati merindukan ibuku seperti pagi ini.

Hari ini aku begitu bersemangat, walaupun hari ini aku libur. Rasanya baterai jiwaku terisi penuh dengan kebahagiaan. Maklum, dua hari yang lalu aku baru saja bertemu dengan Ibu di sela-sela kesibukan kami yang padat. Hanya sebentar memang. Hanya empat jam. Tapi, cukuplah untuk mengobati kerinduan kami selama ini dan, bagi diriku pribadi, tergolong lumayan untuk menghadapi hari-hari kesepian tanpa kekasih. Ha..ha..

Bicara tentang kekasih, wajah ibuku kembali membayang di pelupuk mataku. Ibuku yang cantik itu selalu saja berharap akan ada pangeran tampan berkuda yang menaklukkan hati anak tunggalnya ini. Ah, kiasan itu terasa agak berlebihan ya? Ya, intinya ibu ingin aku cepat-cepat mendapat pasangan yang sesuai. Sepertinya akhir-akhir ini ibu agak prihatin dengan kisah cintaku yang begitu-begitu saja. Tahun ini sudah empat orang laki-laki yang terpaksa gigit jari karena kutolak cintanya. Ha..ha..Melihat kenyataan ini, semestinya ibuku senang dong. Ternyata anaknya yang mantan finalis None Kampus ini punya banyak penggemar. Ha..ha..Tapi, itulah ibuku.

Terlepas dari kekhawatiran ibuku akan kehidupan cintaku, ibuku sangat mendukung cita-citaku. Ibu tidak melarang ketika aku mengutarakan niatku untuk menjadi seorang penulis. Padahal, di negara kita tercinta ini, profesi penulis belum terlalu menjanjikan. Ya, mungkin suatu hari aku akan bertemu dengan orang yang cukup gila untuk menerbitkan tulisanku.

Aku selalu berkata pada Ibu bahwa suatu hari nanti aku akan mengajak Ibu jalan-jalan dengan uang hasil jerih payahku sebagai penulis. Ironisnya, sampai detik ini belum ada penerbit yang bersedia meluncurkan karyaku ke pasaran. “Terlalu riskan,” kata mereka. Memang kuakui, tulisanku itu dapat membuat telinga orang-orang tertentu panas. Namun, aku selalu berdalih bahwa apa yang kutulis itu memang seperti apa adanya karena memang begitu kenyataannya. Aku optimis saja. Mungkin saja karyaku justru akan dikenal setelah aku meninggal dunia. Seperti nasib Edgar Alan Poe, penulis puisi terkenal itu. Sementara itu, aku akan tetap menulis.

Kembali ke reaksi para penerbit tadi, kalau dipikir-pikir , aneh juga ya? Kejujuran koq ditakuti. Dunia memang dipenuhi orang-orang gila. Pantas saja tidak ada yang sanggup jadi pacarku. Mungkin aku terlalu waras untuk ukuran orang-orang gila itu. Orang gila kan tidak bisa mengerti pikirannya orang yang waras, dan sebaliknya. Sedih juga jadinya. Bisa-bisa aku kesepian seumur hidup karena dunia mengalami kelangkaan akan orang waras. Lama-lama aku bisa ikutan gila! Gawat….Tapi, ya sudahlah. Kan masih ada ibuku. Dari dulu kasih sayang yang berlimpah dari Ibu selalu membuatku bertahan melewati badai dalam hidupku. Apalagi kalau cuma kesepian. Itu sih kecil! Begitu mendengar suara ibu di telepon, pasti hatiku rasanya langsung nyesss…adem. Ha..ha.. Ibuku kan wonder woman. Ibuku pasti tersipu-sipu nih kalau tahu aku memujinya setinggi bintang di langit! Sah-sah saja kan memuji ibu sendiri? Ibuku memang hebat koq!

Hmm…Aku sebenarnya mau menulis apa ya tadi? Jadi lupa. Maklum, kesibukanku sebagai mahasiswi kedokteran terkadang memaksaku untuk menumpuk ide di kepalaku. Ide-ide itu sering terdesak oleh isi buku-buku teks kedokteran yang tebal-tebal dan akhirnya menguap entah ke mana tanpa sempat kuketik maupun kutulis.

Oh ya, tadi aku lupa cerita. Sekarang statusku memang mahasiswi kedokteran. Cita-cita awalku memang penulis. Tapi, akhirnya aku berkuliah juga di fakultas kedokteran sebuah universitas swasta yang terjamin mutu dan kualitasnya (itu yang selalu dikatakan seorang dosenku tentang universitas tempatku berkutat mencari ilmu itu). Kupikir-pikir tak ada salahnya menjadi dokter sambil merintis karier sebagai penulis. Ibuku pasti bangga. Sebenarnya aku tidak tahu apa yang melandasi niatku masuk fakultas kedokteran. Apakah karena cita-cita luhur ingin membantu sesama atau semata-mata hanya ingin membuat ibuku bangga? Entahlah. Yang aku tahu aku ingin selalu menjaga ibuku. Kupikir dengan menjadi seorang dokter akan memungkinkan aku untuk selalu menjaganya. Kalau Ibu sakit, aku kan bisa mengobati Ibu.

Aku ingin Ibu hidup seribu tahun lamanya. Pikiran yang sangat naif, tapi dalam pandanganku sangat manusiawi. Manusia kan memang suka bermimpi. Memimpikan sesuatu yang jelas-jelas tidak mungkin akan terjadi. Tapi, aku tidak peduli. Aku akan terus bermimpi. Bagiku, manusia yang tidak memiliki mimpi itu sama seperti manusia yang tidak bernyawa. Selama aku masih hidup, aku akan terus bermimpi. Aku ingin Ibu selalu bersamaku. Aku tidak ingin kehilangan ibuku. Tak terbayang akan seperti apa hidupku jadinya kalau Ibu tidak ada. Akan kulakukan apa saja untuk ibuku.

Harus kuakui, aku agak terobsesi oleh keinginan membahagiakan Ibu. Aku ingin membuat Ibu bangga supaya Ibu tidak menyesal telah bersusah payah membesarkan aku yang sering merepotkannya. Aku ingat betapa sedih dan susahnya hati Ibu ketika aku sempat mogok sekolah. Tapi, itu sudah menjadi masa lalu. Sekarang hidupku sangat bahagia. Peristiwa itu justru semakin mendekatkan aku dengan Ibu. Sesuatu yang tidak pernah kubayangkan sebelumnya. Ibuku itu pelit mengucapkan kata “sayang”. Bahkan kadang-kadang Ibu terkesan kaku dan tertutup. Mungkin akibat hasil didikan zaman dulu. Ibuku selalu bilang bahwa dulu beliau diajari untuk tidak terlalu menunjukkan emosinya, apalagi secara berlebihan, termasuk pula tentang kasih sayang.

Aku tak pernah tahu apa yang sebenarnya dipikirkan oleh Ibu. Sebagian besar perkataannya selalu berkaitan denganku. Ibu jarang bercerita tentang dirinya. Padahal aku sangat ingin belajar tentang kehidupan dari ibuku sendiri. Kenapa ya Ibu seperti itu? Apa ibu-ibu lain juga seperti itu?

Di balik semua itu, aku tahu ibuku itu amat penyayang. Dulu kupikir Ibu tidak sayang aku hingga sering kurasa perlu untuk menanyakan kepada Ibu apakah Ibu sayang aku. Pertanyaanku itu pun jarang dijawab dengan kata-kata. Biasanya hanya dijawab dengan seulas senyum.

Ibuku ini aneh. Memangnya aku bisa telepati? Ditanya koq malah jawabnya cuma dengan senyum. Kadang kalau Ibu sedang bermurah hati untuk bersikap sedikit ekspresif dan aku berkata, “Aku sayang Ibu.”, pasti Ibu hanya menjawab selintas,”Sama.” Tentu saja jawaban itu juga diberi ekstra senyuman manis khas milik ibuku. Tapi, bukan itu yang aku ingin dengar. Aku maunya dijawab seperti yang di film-film itu lho. ‘I love you’ dijawab dengan ‘I love you, too’. Tapi, ibuku tetap ibuku. Aku tetap sayang Ibu,walaupun terkadang aku merasa ibuku itu suka agak kuno dan ketinggalan zaman. Ibuku tidak akan pernah terganti.

Aku sering berandai-andai. Suatu saat nanti, aku akan mengajak Ibu keliling dunia. Aku ingin memanjakan Ibu dengan segala fasilitas terbaik yang bisa kuberikan. Untuk saat ini, cukuplah aku membuat Ibu bangga dengan nilaiku yang cukup memuaskan dan reputasiku yang cukup baik. Setidaknya aku bukan pembuat onar di kampus. Entah mengapa, hari ini aku terus-menerus teringat pada Ibu. Bisa jadi karena semalam aku tersentak oleh kenyataan bahwa aku akan kehilangan seorang sahabat. Sedih sekali rasanya. Dari pengalaman terdahulu, aku tahu bahwa sahabatku ini hanya akan menambah panjang daftar orang-orang yang keluar masuk kehidupanku. Aku tidak terlalu peduli. Tapi, tetap saja aku sedih.

Di saat-saat seperti ini aku sangat merindukan ibuku. Aku ingin dipeluk Ibu. Sepertinya kerinduanku itu yang membuat jari-jariku seakan tidak bisa berhenti menari di atas keyboard laptop-ku. Aku mencoba menumpahkan kerinduanku pada Ibu dan kekecewaanku terhadap sahabatku itu pada Tuan Microsoft Word. Kurasa itu lebih baik daripada aku menangisi kepergian seorang sahabat yang tidak layak kutangisi. Aduh, aku kangen berat sama ibuku! Pasti kamu yang sedang membaca tulisanku ini bingung mengapa aku bisa sayang sekali pada ibuku. Ya kan? Jawabannya gampang. Karena Ibu adalah ibuku. Secara umum, ibuku sama saja seperti ibu-ibu yang lain. Sosok ibuku mungkin tak jauh berbeda dengan sosok ibu yang tercatat dalam memori semua anak di dunia.

Ibuku adalah perempuan yang cantik, berhati lembut, dan penuh kasih sayang. Peluknya yang hangat dan senyum manisnya yang selalu mampu meredam hatiku yang galau terekam dengan baik dalam ingatanku. Itu pula yang selalu membuatku merindukan ibuku.

Sekarang aku mulai beranjak dewasa. Tidak lagi selalu membutuhkan pertolongan Ibu. Aku mulai belajar untuk menjadi pribadi yang otonom dan tidak tergantung pada siapa pun. Dalam langkahku meniti jalan setapak menuju kedewasaan ini, kadang terselip rasa pedih di hati. Kesibukanku yang bertumpuk membuatku jarang bisa bertemu dengan Ibu.

Kadang aku merasa terjepit. Di satu sisi, aku ingin membuktikan pada ibuku bahwa aku sudah mulai dewasa dan mampu menjaga diriku sendiri. Di sisi lain, aku selalu ingin dekat dan dimanja oleh ibuku. Di saat aku sedang mengalami masalah dan aku merasa beban hidupku terlalu berat untuk kujalani, sering aku hanya bisa menangis dalam hati walaupun aku merasa ingin berlari kembali dan bersembunyi dalam pelukan ibuku.

Setelah aku mulai membuka mata terhadap dunia yang sesungguhnya, ternyata dunia tak selalu seindah yang kubayangkan dahulu. Terkadang aku ingin menumpahkan segala keresahanku di depan Ibu. Tapi dalam setiap pertemuanku dengan Ibu, aku hanya mampu berkata bahwa hidupku sangat menyenangkan dan aku baik-baik saja. Berbeda dengan diriku di masa kecil ketika aku selalu menceritakan segalanya pada Ibu, kini aku cenderung menyimpan dan menyelesaikan sendiri sebagian besar masalahku. Kalaupun aku bercerita pada Ibu, hanya masalah-masalah kecil saja yang kuutarakan. Itu pun kuceritakan saat masalahnya sudah selesai. Melihat tuntutan pekerjaan Ibu di kantor yang semakin tinggi saja, aku sering tidak tega bila bebannya harus ditambah dengan cerita sedihku setiap kali kami mengadakan pertemuan yang terbilang jarang itu. Aku tidak ingin menyusahkan hati ibuku. Aku ingin Ibu bangga padaku. Bangga pada anaknya yang sudah bisa mulai menata kehidupannya sendiri.

Tiap kali aku bertemu Ibu atau berkomunikasi via telepon dengan Ibu, sepertinya Ibu selalu tahu bila aku sedang menghadapi masalah. Anehnya, sepertinya ibuku selalu dapat merasakan bila aku sedang resah, meski aku mati-matian menutupinya. Walau begitu, Ibu amat menghargai otonomi kehidupanku. Ibu tidak banyak bertanya. Ibu selalu berkata padaku bahwa doanya selalu menyertaiku dan Tuhan pasti akan selalu bersamaku. Kepercayaan Ibu yang begitu besar terhadapku menguatkan diriku untuk tetap tegar menjalani hidup. Kadang bila aku sedang hebat-hebatnya terguncang oleh badai emosi dalam menghadapi masalah-masalahku, aku berpikir bahwa kasih sayang Ibu-lah yang selama ini membuatku bertahan hidup. Ya, itulah ibuku. Ibu paling hebat di seluruh dunia. Ibu yang selalu mengerti. Meski tak bisa sering bertemu, aku tahu kami selalu bersama dalam hati. Sebagaimana layaknya seorang anak, cita-cita terbesarku adalah selalu dapat menjaga dan membahagiakan ibuku. Sama seperti Ibu yang selalu menjagaku dalam setiap doanya. Aku pun ingin selalu menjaga ibuku dengan caraku sebanyak waktu yang kupunya, bila Tuhan mengizinkan.

Hmm…Ibuku…Masih ada begitu banyak hal yang bisa kuceritakan tentang dirinya. Segala sesuatu dari dirinya begitu kukagumi. Mungkin tak akan pernah ada ruang yang cukup untuk menuliskan segala kesan yang tersimpan dalam diriku tentang ibuku.

Semoga saja suatu saat nanti aku juga akan mendapat kesempatan untuk menjadi seorang ibu. Aku akan menjadi ibu yang sebaik ibuku dan akan kuhujani anakku dengan kasih sayang, sama seperti yang selama ini dilakukan Ibu untukku.

Kuakhiri hari ini sambil berbisik dalam hati, “Kasih Ibu memang sepanjang jalan,” sambil berharap aku dapat bertemu Ibu malam ini dalam mimpi yang teramat indah.

Iklan


  • Tidak ada
  • Mr WordPress: Hi, this is a comment.To delete a comment, just log in, and view the posts' comments, there you will have the option to edit or delete them.

Kategori